BOOK REVIEW

Menyelesaikan Pelanggaran HAM Masa Lalu

Banyak negara memiliki rekam jejak terkait pelanggaranmasa lalu, seperti Jerman saat Hitler berkuasa dengan Nazi-nya pada medio 1930-an . Kemudian, pelanggaran HAM Italia tahun 1924 dengan aktor utama Banito Mussolini atau kasus di Afrika selatan […]

BERITA TERKINI

demo
Morat-Maritnya Kurikulum Pendidikan di Indonesia

Berbagai permasalahan muncul ketika sebuah kurikulum baru diaplikasikan dalam dunia kependidikan kita. Salah satunya adalah dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Sebuah konsep pendidikan yang sangat bagus namun tidak banyak didukung oleh faktor-faktor yang mampu menopang dan […]

BUKU BARU

WS RENDRA dan Teater Mini Kata

Willybrordus Surendra Broto Rendra, nama lengkap Rendra, adalah seorang sutradara teater modern Indonesia yang berpengaruh di dunia seni teater di Yogyakarta. Kehadirannya di dunia teatermendapatkan daya dukung dari pengalaman hidupnya ketika masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Nilai-nilai kekeluargaan, nilai budaya Jawa, nilai beragama, serta peristiwa sosial dan politik yang terjadi di Indonesia menjadi inspirasi bagi kreativitas Rendra.

Buku ini mengulas tentang kehidupan Rendra sebelum dan sesudah menjadi sutradara teater modern hingga sosok yang terkenal di dunia seni peran. Kehadiran dan karyanya dianggap sebagai refleksi dari zamannya. Rendra juga merupakan seorang pengamat masyarakat yang baik yang mampu mencerna peristiwa-peristiwa yang terjadi, memberinya bentuk artistik yang kemudian dituangkan ke atas panggung pertunjukan teater realisme. Pertunjukan Mini Kata merupakan pembaruan bentuk pertunjukan teater di Indonesia.

Lalu, bagaimana Rendra menggugat masyarakat yang tidak peduli dengan situasi dan kondisi politik saat itu? Bagaimana perjuangan Rendra mendirikan Bengkel Teater hingga menjadi kelompok teater yang memiliki karakteristik Yogyakarta? Mini Kata hadir sebagai bukti bagi pemberontakan estetis Rendra. Semuanya dibahas dalam buku ini.

Saya Pengen Jago Presentasi

“Ide dari klien ini ga bagus dan cenderung norak, bahkan masih jauh untuk menuju ide yang sudah saya siapkan. Tapi ingat jangan pernah mengatakan bahwa ide klien itu jelek dan ga bagus. Juga jangan pernah menggunakan kata ‘jangan’ atau ‘tidak’ kepada klien. Gunakanlah selalu kata positif dan tidak berpotensi menyinggung perasaannya.”

Ini baru salah satu dari sekian banyak kiat memikat klien atau lawan bicara yang dibeberkan oleh Om Bud, sapaan akrab Budiman Hakim. Tanpa mantra hipnotis, bahkan tanpa kata-kata yang menggurui, Om Bud membagikan pengalamannya dalam mempresentasikan atau meyakinkan lawan bicaranya untuk meyakini apa yang Om Bud yakini. Kebetulan, Om Bud berkecimpung dalam dunia kreatif, dunia yang menuntutnya agar mampu “menjual” ide-ide liarnya. Tidak mudah membuat orang yakin atas apa yang kita tawarkan.
Kenyataan ini juga dialami oleh Om Bud. Dipandang sebelah mata dan jadi bulan-bulanan cemoohan, anggap saja sebagai kawah candradimuka supaya mental dan wajah kita setebal kulit badak.

Lewat buku ini, Om Bud menularkan jurus-jurus jitu dalam presentasi. Presentasi rupanya cukup bermodalkan keberanian yang membara, bahasa tubuh yang santun, dan tutur kata yang ciamik. Ada banyak faktor yang berperan, salah satunya bagaimana bersikap di depan lawan bicara. Nah, itu butuh pengalaman. Di sinilah, Om Bud mengisahkan pengalaman-pengalaman. Di sini pula, kita bisa merefleksikan pengalaman Om Bud yang sarat akan komedi kehidupan.

BUKU TERLARIS

Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan

“Di Rengasdengklok tidak ada perundingan suatu pun,” tegas Bung Hatta.
Selama “diculik”para pemuda di Rengasdengklok, Bung Hatta membantah bahwa ada perundingan untuk membahas Proklamasi Kemerdekaan. Justru di tengah kegentingan situasi kala itu, ada kebersamaan menarik yang ditunjukkan Dwitunggal, Sukarno-Hatta. Keduanya sibuk bergantian menggendong Guntur yang masih bayi. Bahkan saat menggendong Guntur, Bung Hatta bercerita, ia terpaksa harus merelakan pantalonnya basah karena Guntur kecil ngompol di pangkuannya.

Begitulah sekelumit sisi jenaka kesetiakawanan Sukarno-Hatta. Predikat dwitunggal mereka sandang karena terbukti saling melengkapi, meski sejatinya keduanya memiliki perbedaan prinsipiil, diantaranya, perbedaan politik. Hatta lebih menginginkan bentuk negara kesatuan. Kesamaan visi-memerdekakan serta mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial untuk rakyat Indonesia-menjadi tali yang menyatukan keduanya.

Sangat disayangkan, kesatuan langkah mereka dihadapkan pada sebuah persimpangan. Pada medio 1950-an, mereka tak lagi menjadi dwitunggal. Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Namun, perpisahan itu hanyalah perpisahan dalam perjalanan kepemimpinan. Di luar itu, mereka tetap sepasang sahabat hingga hembusan napas terakhir. Di kala Bung Hatta sakit, Bung Karno mengupayakan pengobatan terbaik. Begitu pula, saat Bung Karno sakit keras dan diperlukan semena-mena oleh rezim Orde Baru, Bung Hatta hadir untuk menguatkan sang sahabat. Pada perjumpaan terakhir itu, Bung Karno mengucapkan kalimat yang sulit ditangkap, tapi kira-kira berbunyi, “Hoe gaat het met jou” ‘Apa kabar?’ Bung KArno menitikkan air mata, menetes ke bantal. Ia memandang Bung Hatta, yang terus memijit lengan Bung Karno.

Buku ini berisi pergumulan perjalanan dwitunggal sekaligus penegasan bahwa mereka bukan dipaksa untuk memproklamasikan kemerdekaan RI, namun Proklamasi Kemerdekaan RI sebenarnya sudah menjadi bagian dari strategi mereka yang dirancang sejak tahun 1920-an

Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe

Ketika negara Republik Indonesia ini belum lahir, penduduk yang mendiami bumi nusantara ini sudah memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan sesuai dengan minat atau memang telah menjadi warisan leluhurnya. Sebagai jantung politik pemerintah Hindia Belanda sekaligus pusat industri, Pulau Jawa menjanjikan napas penghidupan yang panjang. Dalam buku ini, Oliver Johannes Raap, sang penulis, menuturkan setiap koleksi kartu posnya secara rinci, santun, bahkan tak jarang menggelitik. Lebih dari seratus lima puluh pekerja sudah dilakoni oleh masyarakat pada rentang akhir abad 19 hingga awal abad 20.

Uniknya, tidak sedikit pekerjaan yang sudah punah, namun banyak juga yang bermetamorfosis. Sebut saja, penjual sutra keliling. Pada zamannya, pekerjaan itu boleh dibilang menjadi primadona kaum etnis Tionghoa, namun kini keberadaannya sudah tergilas zaman. Di sini, Oliver menjelaskan bahwa penjual seperti ini disebut “tukang kelontong”. Kelontong adalah alat musik kecil yang berbunyi kalau diputar, yang pada zaman dahulu dipakai oleh pedagang keliling Tionghoa.

Sungguh … melalui kartu pos, kita bisa mengetahui banyak istilah ataupun riwayat sejarah yang belum diketahui. Seolah-olah, imajinasi kita dibawa ke masa lalu dan seolah-olah pula, waktu bisa kembali diputar lewat kartu pos.

Anak Dusun Keliling Dunia

Prersentasi merupakan satu bagian tak terpisahkan dari kegiatan berbagi atas banyak hal, terutama berkaitan dengan pengalaman. I Made Andi Arsana, sang penulis, berkeliling dunia dengan menyebarkan pengalamannya melalui presentasi yang simple, menggelitik, tapi ternyata sangat mencuri kesan banyak orang. Dalam buku ini, penulis juga membagikan ilmu kepada pembaca, bagaimana cara mempresentasikan sebuah karya dengan berani di hadapan publik dari lintas negara.

Siapa pun pasti punya harapan dan angan-angan, bertukar ilmu, entah melalui beasiswa ataupun bekerja di luar negeri. Cara-cara yang ditempuh penulis layak dicontoh dan sangat menginspirasi terutama di pergaulan antarbangsa. Bagaimana penulis yang semula hanya anak seorang penambang padas di dusun terpencil berubah menjadi ahli geospasial yang sudah melalang buana ke berbagai negara.

Buku ini menjelaskan berbagai persoalan mengenai tips dan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menjadi surveyor hebat di negeri orang. Kita diajak mengunjungi dan menikmati keindahan banyak tempat. Sebuah catatan perjalanan yang luar biasa dan menginspirasi.

Penulis ingin menularkan rasa optimisme dan percaya dirinya kepada kita untuk terus berjuang menggapai mimpi dan peluang. Hal terpenting buku ini tidak hanya menceritakan kenikmatan dan kehebatan sebuah presentasi di forum resmi, tetapi juga perjuangan untuk mencapai apa yang dicita-citakan meski harus jatuh-bangun. Baca kisah inspiratifnya dan kita akan terlecut untuk tetap optimis menggapai cita-cita kita.

FACEBOOK PAGE
TWITTER