BOOK REVIEW

Luka Bangsa Luka Kita
Menyelesaikan Pelanggaran HAM Masa Lalu

Banyak negara memiliki rekam jejak terkait pelanggaranmasa lalu, seperti Jerman saat Hitler berkuasa dengan Nazi-nya pada medio 1930-an . Kemudian, pelanggaran HAM Italia tahun 1924 dengan aktor utama Banito Mussolini atau kasus di Afrika selatan […]

BERITA TERKINI

RUU Pilkada resize
PILKADA SERENTAK, PARPOL BERSENGKETA MENCARI JALAN...

Banyak jalan menuju Roma! Gagal membujuk KPU untuk mengubah peraturan terkait Pilkada serentak tahun 2015, para wakil rakyat tak kurang akal. Panitia kerja (Panja) Komisi II DPR RI kompak ajukan revisi Undang-undang tentang Pilkada yang […]

BUKU BARU

Belajar Membumi bersama Mbah Rono

Sebagai ilmuwan Geofisika lulusan S3 Prancis, Surono atau kerap disapa dengan Mbah Rono menjatuhkan pilihannya pada gunung api. Kecintaannya pada gunung api di Indonesia membuatnya meraih banyak prestasi dan dikenal di kalangan peneliti gunung api dunia.

Mbah Rono tak seperti Isaac Newton ataupun Archimedes yang mengabadikan namanya untuk sebuah teori baru tentang keilmuwan. Ketika saya bertanya mengapa teori-teori yang ia temukan tak diabadikan dengan namanya, ia tersenyum malu dan mengatakan bahwa namanya tak sekeren nama para penemu teori di luar sana. Namun demikian, ia tetap berdedikasi tinggi. Ia memiliki sejumlah temuan tentang tingkatan aktivitas gunung api yang bertujuan membantu masyarakat dan pemerintah membaca gunung, yaitu tahapan status aktif normal, waspada, siaga, dan awas.

Kendati hanya berisi wawancara ringan tentang alam, buku ini saya tulis supaya kita dapat belajar bersama untuk mencintai dan hidup harmonis bersama alam. Karena seperti kata Mbah Rono, “Di alam ini manusia hanyalah tamu. Sebagai tamu kita tak boleh kurang ajar kepada tuan rumah.”

JANG OETAMA Jejak dan Perjuangan H.O.S Tjokroamino...

“Kita mencintai bangsa kita dan dengan ajaran agama kita (Islam), kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita.”

Sepenggal kalimat itu diucapkan oleh H.O.S Tjokroaminoto di depan khalayak ramai dalam rapat akbar Sarekat Islam (SI). Pak Tjokro menggelorakan persatuan bangsa karena ia memimpikan kemerdekaan. Merdeka dari penjajahan Belanda yang menindas wong cilik. TErbukti, perjuangan Pak Tjokro membuat gusar pemerintah Belanda sehingga keberadaannya menjadi setitik harapan bagi rakyat jelata yang cukup lama merindukan datangnya Ratu Adil.

Ideologi Islam, Sosialisme Islam, Sarekat Islam, dan zelfbestuur (merdeka di tanah air sendiri) diusung Pak Tjokro dalam merangkul rakyat untuk bergabung ke dalam SI – organisasi yang didirikannya pada tahun 1919, jumlah anggota SI mencapai 2,5juta! Tak heran, SI menjadi organisasi yang ditakuti Belanda. Demi menyatukan rakyat kecil, Pak Tjokro menanggalkan baju priayinya. Ia turun ke bawah dan membangun gerakan lewat kesenian dengan membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad dan kelompok kesenian Jawa Dwipa. Melalui budaya itulah, publik merasa dekat dan benar-benar diayomi oleh Pak Tjokro. Berkat kesungguhan dan keberaniannya, mereka menyebut Pak Tjokro sebagai “Jang Oetama”.

Buku ini mengungkapkan bukti-bukti bahwa perpecahan dalam tubuh SI terindikasi kuat merupakan bagian dari skenario besar Belanda. Pak Tjokro sadar akan intervensi penjajah itu maka ia memercayakan Sukarno untuk memerdekakan bangsa ini. Putra sang Fajar yang sejak awal dititipkan di rumah pak Tjokro ini memang dipersiapkan untuk membebaskan ibu pertiwi dari belenggu penjajah.

Subhanallah! Orang Jepang Naik Haji

Menunaikan ibadah haji merupakan rukun islam yang kelima, dan merupakan ibadah ritual yang bersifat personal. Setiap muslim pasti ingin berkunjung ke tanah suci.

Buku ini berisi renungan-renungan ringan dan kisah-kisah perjuangan jamaah haji dari Jepang. Subhanallah.. Jepang yang notabene adalah negara sekuler, ternyata memiliki masyarakat muslim yang sangat antusias untuk melaksanakan ibadah haji. Perjuangan mereka sungguh berat karena pemerintah Jepang tidak pernah memberikan cuti panjang bagi warganya yang hendak menunaikan ibadah haji. Tidak seperti kita yang hidup di Indonesia.

Melalui buku ini,penulis ingin menuangkan pengalamannya ketika beribadah haji bersama jamaah dari jepang yang kadang serius,dan kadang lucu. Pengalaman yang penuh dengan pelajaran hidup dan sangat inspiratif.

Tak lupa, penulis juga ingin memberikan catatan tentang:
– cara-cara pelaksanaan ibadah haji
– berbagai persiapan menuju tanah suci
– tips-tips selama beribadah haji dan umrah

Semoga kita dapat menjadi tamu Allah Swt. yang selalu mendapatkan berkah. Amin…

BUKU TERLARIS

Saya Pengen Jago Presentasi

“Ide dari klien ini ga bagus dan cenderung norak, bahkan masih jauh untuk menuju ide yang sudah saya siapkan. Tapi ingat jangan pernah mengatakan bahwa ide klien itu jelek dan ga bagus. Juga jangan pernah menggunakan kata ‘jangan’ atau ‘tidak’ kepada klien. Gunakanlah selalu kata positif dan tidak berpotensi menyinggung perasaannya.” (more…)

Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan

“Di Rengasdengklok tidak ada perundingan suatu pun,” tegas Bung Hatta.
Selama “diculik”para pemuda di Rengasdengklok, Bung Hatta membantah bahwa ada perundingan untuk membahas Proklamasi Kemerdekaan. Justru di tengah kegentingan situasi kala itu, ada kebersamaan menarik yang ditunjukkan Dwitunggal, Sukarno-Hatta. Keduanya sibuk bergantian menggendong Guntur yang masih bayi. Bahkan saat menggendong Guntur, Bung Hatta bercerita, ia terpaksa harus merelakan pantalonnya basah karena Guntur kecil ngompol di pangkuannya. (more…)

Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe

Ketika negara Republik Indonesia ini belum lahir, penduduk yang mendiami bumi nusantara ini sudah memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan sesuai dengan minat atau memang telah menjadi warisan leluhurnya. Sebagai jantung politik pemerintah Hindia Belanda sekaligus pusat industri, Pulau Jawa menjanjikan napas penghidupan yang panjang. Dalam buku ini, Oliver Johannes Raap, sang penulis, menuturkan setiap koleksi kartu posnya secara rinci, santun, bahkan tak jarang menggelitik. Lebih dari seratus lima puluh pekerja sudah dilakoni oleh masyarakat pada rentang akhir abad 19 hingga awal abad 20. (more…)

FACEBOOK PAGE
TWITTER

EVENT

Road Show 5 Kota-Pameran Buku Murah

GALANGPRESS GROUP hadir di Road Show 5 Kota - Pameran Buku MurahREMBANG 29 Juli - 4 Agustus 20[...]

Festival Buku Gramedia 2 Probolinggo 2015

Galangpress hadir di "Festival Buku Gramedia 2 2015" Tempat: GOR Sasana Krida Kraksaan Probolinggo [...]