JANG OETAMA Jejak dan Perjuangan H.O.S Tjokroaminoto

“Kita mencintai bangsa kita dan dengan ajaran agama kita (Islam), kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita.”

Sepenggal kalimat itu diucapkan oleh H.O.S Tjokroaminoto di depan khalayak ramai dalam rapat akbar Sarekat Islam (SI). Pak Tjokro menggelorakan persatuan bangsa karena ia memimpikan kemerdekaan. Merdeka dari penjajahan Belanda yang menindas wong cilik. TErbukti, perjuangan Pak Tjokro membuat gusar pemerintah Belanda sehingga keberadaannya menjadi setitik harapan bagi rakyat jelata yang cukup lama merindukan datangnya Ratu Adil.

Ideologi Islam, Sosialisme Islam, Sarekat Islam, dan zelfbestuur (merdeka di tanah air sendiri) diusung Pak Tjokro dalam merangkul rakyat untuk bergabung ke dalam SI – organisasi yang didirikannya pada tahun 1919, jumlah anggota SI mencapai 2,5juta! Tak heran, SI menjadi organisasi yang ditakuti Belanda. Demi menyatukan rakyat kecil, Pak Tjokro menanggalkan baju priayinya. Ia turun ke bawah dan membangun gerakan lewat kesenian dengan membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad dan kelompok kesenian Jawa Dwipa. Melalui budaya itulah, publik merasa dekat dan benar-benar diayomi oleh Pak Tjokro. Berkat kesungguhan dan keberaniannya, mereka menyebut Pak Tjokro sebagai “Jang Oetama”.

Buku ini mengungkapkan bukti-bukti bahwa perpecahan dalam tubuh SI terindikasi kuat merupakan bagian dari skenario besar Belanda. Pak Tjokro sadar akan intervensi penjajah itu maka ia memercayakan Sukarno untuk memerdekakan bangsa ini. Putra sang Fajar yang sejak awal dititipkan di rumah pak Tjokro ini memang dipersiapkan untuk membebaskan ibu pertiwi dari belenggu penjajah.