Menembus Badai

Di sebuah desa dekat kaki Gunung Semeru, Jawa Timur, Wu Da Ying lahir dan dibersarkan di lingkungan keluarga pedagang Tionghoa. Desa yang menyimpan kenangan sekaligus membangun keterikatan sejarah dan emosionalnya, meski ia sekarang tak lagi berteduh di atap rumah desanya. Kehidupannya beserta keluarga besar sarat tanangan dan peluh, namun mereka mampu menikmatinya.
Bisnis dan hubungan mereka dengan warga pribumi pun terajut indah. Nenek moyang Wu Da Ying ikut merintis roda perekonomian di sebagian wilayah Jawa Timur. Namun, keharmonisan itu berubah menjadi mimpi buruk mana kala meletus tragedi’65 – sebuah tragedi kemanusiaan yang tak pernah lepas dari sejarah Republik ini. Intimidasi beraroma rasis serta diskriminasi mencengkeram denyut nadi kehidupan mereka, akibatnya mereka pun benar-benar terkucil.

Dalam diri Wu Da Ying mengalir darah bangsa penjelajah yang pantang menyerah, bangsa Hakka. Berbekal tekad dan nekat, ia memutuskan untuk menuntut ilmu di Kanada. Ia berharap, badai bersalin wajah menjadi suasa yang damai dan cerah. Namun, justru, di negeri rantau inilah, ia menghadapi badai yang baru, yang membutuhkan kekuatan berlipat-lipat demi merengkuh di tengah badai kehidupan itu. Semangat hidup Wu Da Ying layak menjadi inspirasi karena mampu mewujudkan impiannya menjadi seorang ilmuwan murni dan kreatif yang mendunia. Pencapaiannya yang begitu berkilau itu tetap tak menyurutkan kerinduannya sebagai arek Jawa Timur.

Buku ini terurai kisah pengembaraan kehidupan yang mungkin tidak terbayangkan oleh warga Tionghoa-Indonesia zaman sekarang. Begitu dramatis, pengembaraan yang sarat senyum, peluh, dan air mata. Bagi Wu Da Ying, refleksi dan gerak sang Waktu-lah yang akhirnya bisa mendamaikan dirinya dengan masa lalu.

Di sinilah, Wu Da Ying ingin membuktikan ketulusan dan kerekatannya pada ibu pertiwi. Ia ingin mengajak siapa saja yang memiliki sika chauvinis dan ingatan suram tentang tragedi’65 untuk bangkit, membuang cara pandang lama, menembus badai menuju hidup baru.