Menyelesaikan Pelanggaran HAM Masa Lalu

Banyak negara memiliki rekam jejak terkait pelanggaranmasa lalu, seperti Jerman saat Hitler berkuasa dengan Nazi-nya pada medio 1930-an . Kemudian, pelanggaran HAM Italia tahun 1924 dengan aktor utama Banito Mussolini atau kasus di Afrika selatan pada tahun 1960 saat rezim apartheid berkuasa.

Begitu pula dengan Indonesia. Pada tahun 1985-19666 terjadi pembataian ratusan ribu rakyat yang di tuduh sebagai anggota PKI. Berbeda dengan negara-ngegara lain yang berani mengakui, mengolah dan menuntaskan kejahatan ke manusiaan, Indonesia takut sehingga kasusnya tidak terselesaikan.

Baskara T Wardaya, editor buku ini, menghadirkan kumpulan tulisan-tulisan untuk menggambarkan secara jelas mengenaik pelanggaran HAM berat terkait peristiwa 1965-19666. Tujuannya agar masyarkat lebih paham kejadian dan dampaknya. Pada bagian depan buku menjelaskan gambaran umum dan konteks yang melatarbelakangi tragedi tersebut. Ada juga laporan Komnas HAM terkait proses pelanggaran HAM tahun 1965-1966 dengan segala dampaknya.

Buku ini hendak mendorong penuntasan masalah pelanggaran HAM dengan menyajikan laporan eksekutif hasil peneyelidikan Tim Ad Hoc penyelidikan pelanggaran HAM berat peristiwa 1965-1966. Selesai itu, juga desetai laporan pelanggaran HAM Orde Baru. Ada pula tulisan-tulisan mengenai konteks pembunuhan massal tahun 1965-1966, kekerasan pada tapol di Pulau Buru. kekerasan pada tapol di Pulau Buru. Tema lain disodorkan, gagaran cara menangani dan solusinya.
Pada bagian penutup, disimpulkan arti penting rekonsiliasi bangsa sebagai keluar, bukan untuk balas dendam. Proses seperti di palu, Sulawesi Tengah, menunjukan bahwa usaha rekonsiliasi telah membuatkan langkah permulaan ketika wali kota tak segan0segan megakui kesalahan dan minta maaf di depan umum.

para korban pun mamahami dan memaafkan wali kota. Kiranya, peristiwa langka seperti itu bisa menjadi contoh yang menginspirasi banyak orang di tingkat lokal maupun nasional. Ini rekonsiliasi nasional yang di luar dugaan banyak orang, tetapi bisa terwujud. ini juga mengindikasikan, bangsa Indonesia mampu menyelesaikan kekerasa masa lapau.

Karya tersebut ingin mengingakan kebali masyarakat bahwa laporan Komnas HAM tetap penting untuk terus dipelajari sebagai acuan kerja-kerja kemanusiaan kini dan nanti. Inilah traktat penting bagi para pejuang kemanusiaan dan mereka yang peduli penegakan keadilan. Bacaan ini juga memberikan sudut pandang yang lebih luas bagi generasi muda terhadap sejarah bangsa.

Resensi by Mah Rusdi