Morat-Maritnya Kurikulum Pendidikan di Indonesia

Berbagai permasalahan muncul ketika sebuah kurikulum baru diaplikasikan dalam dunia kependidikan kita. Salah satunya adalah dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Sebuah konsep pendidikan yang sangat bagus namun tidak banyak didukung oleh faktor-faktor yang mampu menopang dan memuluskan pelaksanaan kurikulum tersebut. Pelaksanaan kurikulum yang terlalu cepat, suplai buku yang terlambat dan kurang merata, metode pengajaran yang baru dan dianggap membingungkan bagi sebagian guru dan siswa, dan beberapa permasalahan lainnya. Berbagai kendala ini akhirnya menuai polemik di masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan dunia kependidikan. Hingga akhirnya mencuat sebuah wacana baru saat adanya pergantian pemerintah dan kabinet, yaitu kemungkinan dihentikannya pelaksanaan Kurikulum 2013.


Demo memprotes pelaksanaan Kurikulum 2013
Sumber: statik.tempo.co

Namun, apakah Kurikulum 2013 kini telah dihentikan pelaksanaannya?
Hal itu pernah dijawab oleh Mendikbud Anies Baswedan di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Jumat (5/12/2014) lalu. Dalam pernyataannya, beliau mengatakan, “Dengan memperhatikan rekomendasi tim evaluasi implementasi kurikulum, maka Kurikulum 2013 dihentikan.”
Namun, dikarenakan ada 6.221 sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 selama tiga semester lebih maka sekolah-sekolah inilah yang kemudian dijadikan sebagai sekolah percontohan serta sarana untuk mengembangkan dan menyempurnakan Kurikulum 2013.
Mendikbud mengatakan, “Proses penyempurnaan Kurikulum 2013 tidak berhenti, akan diperbaiki dan dikembangkan, serta dilaksanakan di sekolah-sekolah percontohan yang selama ini telah menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester terakhir.”
Keputusan tersebut diambil oleh Kemendikbud dikarenakan adanya fakta bahwa sebagian besar sekolah belum siap melaksanakan Kurikulum 2013. Beberapa masalah yang menjadi kendala, antara lain kesiapan buku penunjang, sistem penilaian yang masih belum dipahami oleh semua guru, serta masih kurangnya penataran guru, pendampingan guru, dan pelatihan kepala sekolah.
Setelah Kemendikbud mengeluarkan pernyataan tersebut, implementasi Kurikulum 2013 rencananya tetap dilakukan secara terbatas untuk sekolah-sekolah yang pada Tahun Pelajaran 2013/2014 telah melaksanakan kurikulum tersebut. Hanya sekolah-sekolah tersebut yang wajib menjalankan Kurikulum 2013 sebagai tempat untuk memperbaiki dan mengembangkan kurikulum tersebut.
Apakah semua sekolah sudah melaksanakan keputusan tersebut?
Dalam pelaksanaannya, hal tersebut sepertinya tidak berjalan mulus. Masih ada beberapa daerah yang tetap bersikeras untuk melaksanakan kurikulum 2013, belum bersedia beralih kembali ke KTSP. Misalnya saja di Daerah Istimewa Yogyakarta. Suba’iah, salah seorang guru SD di Yogyakarta dan penulis buku penunjang pelajaran di Jogja Bangkit Publisher, sempat menyampaikannya ke Redaksi Penerbit PT Galang Media Utama melalui sebuah pesan singkat.
Dalam pesan tersebut, ia menyampaikan bahwa seluruh kepala sekolah dasar se-Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Jumat (23 Januari 2015) telah dipanggil ke kantor Dinas Pendidikan DIY terkait pelaksanaan KTSP (Kurikulum 2006) untuk SD yang belum melaksanakan Kurikulum 2013 selama tiga semester. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan bahwa KTSP harus sudah diberlakukan oleh semua sekolah dasar yang tidak dijadikan sebagai sekolah percontohan, mulai hari Senin (26 Januari 2015). Namun demikian, hal ini tidak serta merta segera dilaksanakan oleh sekolah-sekolah tersebut. Tenggat waktu maksimal pelaksanaan yang diberikan adalah sampai akhir bulan Januari 2015. Dengan demikian, mulai Februari 2015 diharapkan semua sekolah yang tidak dijadikan sebagai sekolah percontohan pelaksanaan Kurikulum 2013 sudah kembali menggunakan KTSP (Kurikulum 2006).
Berbagai perencanaan mulai dibuat oleh sekolah terkait transisi kurikulum ini. Menurut beberapa guru dan kepala sekolah di daerah Sleman, DIY, perpindahan kurikulum ini lebih mudah dilaksanakan daripada perpindahan kurikulum sebelumnya (Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013) karena mereka sudah lama dan terbiasa menjalankan kurikulum 2006. Beberapa sekolah mengambil langkah akan menarik kembali buku-buku yang digunakan pada pelaksanaan Kurikulum 2013, dan selanjutnya akan dijadikan sebagai bacaan di perpustakaan sekolah. Selain itu, para guru dan kepala sekolah tinggal menyiapkan hal-hal teknis terkait pelaksanaan pembelajaran sesuai KTSP, misalnya penyesuaian bahan ajar, jadwal pelajaran, dan sebagainya.
(dikutip dari berbagai sumber)