Sang Novelis Legendaris Buka Rahasia Menulis Novel

Dua kelas penuh sesak oleh siswa yang ingin menyimak jurus penulisan dari Ibu Maria A. Sardjono. Membludaknya jumlah siswa yang ikut jadi jadi peserta boleh dibilang di luar perkiraan. Awalnya, pihak sekolah SMKN 1 Bantul mendaftarkan dua kelas yang berjumlah siswa sekitar 60 orang. Namun, pada waktu pelaksanaanya, 18 September 2015, mana kala Ibu Maria mengawali sesi materi kepenulisan, siswa dari kelas lain berminat untuk bergabung. Tak heran, apabila beberapa siswa duduk bersila di lantai dan sebagian lagi berbagi tempat duduk.

Novelis yang sudah menelurkan seratus lebih karya ini menyambut baik program “Penulis Blusukan ke Sekolah” yang digagas oleh penerbit Galangpress. Di depan kelas, almnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini membagikan pengalamannya dalam menulis kepada para siswa. Salah satu materi yang menggelitik perhatian para siswa adalah soal sesat logika dalam menulis. Penulis novel Bukan Istri Pilihan ini memberikan contoh tulisan yang dinilai menyalahi kaidah penulisan dan tidak mendidik bagi pembaca dan penulis muda lainnya. Semisal, ada kalimat, seorang ibu membelai rambut anaknya usai operasi otak. Padahal, rambut mutlak dicukur habis ketika pasien akan dioperasi otak. Ibu Maria menekankan bahwa penulis harus melakukan riset dan mengumpulkan referensi terlebih dulu saat penulis sudah menemukan ide cerita. Unsur-unsur penyusun cerita yang mutlak dilakukan riset adalah penggalian karakter atau tokoh, latar belakang atau setting, dan gaya bahasa.

Butuh proses yang tidak sebentar untuk menjadi seorang penulis. Ibu Maria membeberkan kuncinya. Ternyata kuncinya sangatlkah mudah, yakni banyak membaca dan rajin menulis. Sejak remaja, ibu Maria ini teramat suka membaca. Hampir semua buku cerita yang sedang populer pada zamannya ia lahap. Ia juga terbiasa menulis banyak hal seputar pengalaman hidupnya ke dalam catatan harian. Kiat-kiat rahasia dan sederhana menjadi penulis, ia tuangkan ke dalam buku berjudul 1001 Cara Menjadi Novelis terbitan Kana Media.

Ibu Maria mengaku sangat senang dengan adanya program “Penulis Blusukan ke Sekolah” ini. Ia berharap program ini bisa memberikan inspirasi dan memotivasi anak-anak muda untuk menjaga dan kian mengembangkan kekayaan sastra Indonesia.