Sukarno-Hatta Bukan Proklamator Paksaan

“Di Rengasdengklok tidak ada perundingan suatu pun,” tegas Bung Hatta.
Selama “diculik”para pemuda di Rengasdengklok, Bung Hatta membantah bahwa ada perundingan untuk membahas Proklamasi Kemerdekaan. Justru di tengah kegentingan situasi kala itu, ada kebersamaan menarik yang ditunjukkan Dwitunggal, Sukarno-Hatta. Keduanya sibuk bergantian menggendong Guntur yang masih bayi. Bahkan saat menggendong Guntur, Bung Hatta bercerita, ia terpaksa harus merelakan pantalonnya basah karena Guntur kecil ngompol di pangkuannya.

Begitulah sekelumit sisi jenaka kesetiakawanan Sukarno-Hatta. Predikat dwitunggal mereka sandang karena terbukti saling melengkapi, meski sejatinya keduanya memiliki perbedaan prinsipiil, diantaranya, perbedaan politik. Hatta lebih menginginkan bentuk negara kesatuan. Kesamaan visi-memerdekakan serta mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial untuk rakyat Indonesia-menjadi tali yang menyatukan keduanya.

Sangat disayangkan, kesatuan langkah mereka dihadapkan pada sebuah persimpangan. Pada medio 1950-an, mereka tak lagi menjadi dwitunggal. Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Namun, perpisahan itu hanyalah perpisahan dalam perjalanan kepemimpinan. Di luar itu, mereka tetap sepasang sahabat hingga hembusan napas terakhir. Di kala Bung Hatta sakit, Bung Karno mengupayakan pengobatan terbaik. Begitu pula, saat Bung Karno sakit keras dan diperlukan semena-mena oleh rezim Orde Baru, Bung Hatta hadir untuk menguatkan sang sahabat. Pada perjumpaan terakhir itu, Bung Karno mengucapkan kalimat yang sulit ditangkap, tapi kira-kira berbunyi, “Hoe gaat het met jou” ‘Apa kabar?’ Bung KArno menitikkan air mata, menetes ke bantal. Ia memandang Bung Hatta, yang terus memijit lengan Bung Karno.

Buku ini berisi pergumulan perjalanan dwitunggal sekaligus penegasan bahwa mereka bukan dipaksa untuk memproklamasikan kemerdekaan RI, namun Proklamasi Kemerdekaan RI sebenarnya sudah menjadi bagian dari strategi mereka yang dirancang sejak tahun 1920-an