Udah Jadi Copywriter Sebelum Jadi Copywriter

Saya mengenal Budiman Hakim sejak hari pertama menjadi mahasiswa Fakultas Sastra UI, tahun 1984, di Rawamangun. Dia mahasiswa Sastra Prancis, saya Sastra Inggris.

Budiman, buat saya, adalah tipe bintang. Entah bagaimana, dia selalu punya kemampuan untuk membuat banyak orang teman-temana berkerumun di sekitarnya. Dan terhibur. Main gitar, jago. Nyanyi, apa lagi. Udah gitu, dia seperti punya mata air cerita-cerita lucu, yang tak pernah berhenti mengalir. Boro-boro kesepian, kalo deket-deket dia bersiaplah bawa perbendaharaan ngakak yang banyak. Dijamin ludes dalam waktu singkat.

Dan kalo saya bertanya, “Bud, kok lo dapet aja sih cerita-cerita, pengalaman-pengalaman lucu model gitu?” Jawabnya kurang lebih seperti ini, “Jim, sebenernya cerita-cerita dan pengalaman-pengalaman yang lucu itu dialami setiap orang dan ada di sekitar kita. Masalahnya, mau nggak kita mencatat dan mengumpulkannya, untuk kemudian kita bagi ke orang-orang di sekitar kita?.

Sambil ngangguk-ngangguk saya ngegeremeng dalam hati, Beeetuuulll juuugaaa, yaaa!

Kalo ditelaah, ada 3 modal penting yang harus dimiliki oleh seorang copywriter andal dalam jawaban itu:

  • Ketajaman Pengamatan. Benar-benar membuka mata dan telinga lebar-lebar, agar bisa menyerap segala sesuatu yang menarik.
  • Kemampuan memilah-milih, mana yang sekiranya bakal mampu menyentuh emosi atau urat tawa orang dan mana yang bakal garing.
  • Hasrat Berkabar. Keinginan kuat untuk berbagi hal-hal positif yang bermanfaat buat orang lain.

Dan Budiman memiliki ketiganya dalam jumlah masif, bahkan sejak dia mahasiswa! Sebelum mengenal dunia advertising sama sekali.

Nggak cukup sampai di situ, bakat menulisnya juga gede banget. Taunya saya itu, gara-gara pas udah pindah kuliah di Depok. Suatu hari Budiman dateng ke kampus, pake kaos bertuliskan (maaf) “NG**T*T” ditulis dalam huruf kapital dengan ukuran besar. Terus di bawahnya ada tulisan “adalah kata yang tak pantas diucapkan” ditulis dalam huruf biasa dengan ukuran kecil, yang panjangnya dibikin sama dengan kata berhuruf kapital di atasnya.

Konon kabarnya, desain kaos itu dia juga yang bikin. Gokil!

Budiman sudah jadi Copywriter dan Art director sekaligus bahkan sebelum dia kerja jadi Copywriter pertama kali di Aim Communications Advertising! Makanya saya nggak heran kalo kemudian karya-karya advertising-nya, baik yang ada di tv, print, radio, dan media lainnya itu sering kali menyentuh hati para juri Citra Pariwara, Phinastika, bahkan juri New York Festival.

Saya juga nggak heran kalo buku-bukunya itu—termasuk buku yang sedang sampeyan baca ini—enak dibaca, mudah dipahami, gamblang, sering bikin pembacanya senyum-senyum sendiri, tertawa terbahak-bahak, atau berkaca-kaca matanya saking terharunya. Atau, kayak saya, bilang keras-keras di depan orang banyak, “Kurang ajar lo, Bud!” Saking bagusnya tulisan dia.

Nah, kalo ada yang mau jadi Copywriter, pengen bikin copywriting bagus, tapi nggak mau belajar dari orang model Budiman gini dan nggak mau baca buku ini dari huruf pertama sampai titik terakhir, tanpa ada yang kelewatan; maka copywriting bukan dunianya. Copywriter bukan profesinya.

Cari aja kerjaan laen sana! Yang nggak ada urusannya sama kata-kata!

 

Jakarta, 10 Februari, 2015

Rizky Nur Zamzamy

Salah seorang partner Budiman dalam mendirikan MACS909